NEWS

TB Silalahi Pictures Kembali Siap Memproduksi Film Keduanya Bertajuk “I Leave My Heart In Lebanon-Garuda 23”

Jakarta | Tepuk tangan meriah warga Lebanon menggema di Lapangan Upacara “Soekarno Base”. Raut wajah penuh haru dan bangga terpancar di wajah mereka. Bahkan tidak sedikit di antaranya yang menitikkan air mata manakala mendengar Lagu Kebangsaan Lebanon Qulna Lil Waton dinyanyikan oleh 850 prajurit Satgas Yon Mekanis TNI Kontingen Garuda XXIII B yang bertugas dalam misi Perdamaian PBB di Lebanon Selatan.

Pujian pun bertaburan, “Syukran, Indunissiyah!” (Terima kasih, Indonesia!) atau “Ta’ajjabna ilaik!” (Kami salut pada anda!). Demikian ucapan yang disampaikan warga Lebanon Selatan yang menghadiri Upacara dalam rangka penganugerahan tanda kehormatan UN Medal kepada Kontingen Indonesia di Markas Konga XXIII B UN Posn 7-1 Adshit Al Qusayr. Upacara ini sendiri dipimpin langsung oleh Force Commander (Panglima) UNIFIL Mayjen Claudio Graziano selaku Inspektur Upacara.

Kebanggaan sekaligus pujian terhadap apa yang dilakukan oleh prajurit Indonesia benar-benar telah mencerminkan pelaksanaan tugas sesuai mandat Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 1701. Berkat kontribusinya yang signifikan telah mampu menciptakan stabilitas keamanan di Lebanon Selatan melalui upaya-upaya dan inovasi yang belum pernah dilakukan kontingen lainnya seperti kursus komputer, pelayanan kesehatan, kerja bakti, latihan bela diri, latihan P3K dan Evakuasi, renovasi pusat kegiatan sosial dan lain sebagainya.

Tulisan diatas hanya sepenggal kisah prajurit Tentara Nasional Indonesia atau Kontingen Garuda yang ditugaskan sebagai pasukan perdamaian di negara lain dengan segudang kenangan atas prestasi yang diraihnya. Ini pun, hanya kita ketahui melalui pemberitaan media massa yang kita baca, dengar dan lihat melalui layar kaca. Tapi, kita tidak pernah tahu lebih dalam bagaimana kehidupan mereka, apa yang dilakukannya, termasuk suka duka serta kisah romantisme para personilnya secara kasat mata.

Berkaca dari keinginan masyarakat dan juga harapan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo ada sebuah film yang mengangkat kisah pasukan TNI di luar negeri, langsung disambut baik oleh Letjen (Purn) TB Silalahi. Setelah sukses dengan debutnya di dunia film lewat produksi perdananya “Toba Dreams” yang meraih berbagai penghargaan, kembali TB Silalahi siap memproduksi film layar lebar keduanya berjudul “I Leave My Heart In Lebanon-Garuda 23”.

“Ya, ketika itu Panglima TNI menghampiri saya, dia meminta dibikinkan sebuah film tentang pasukan TNI yang ada di dunia. Selama ini kan kita hanya melihat prestasi TNI di dalam negeri saja, termasuk juga film baru sebatas biopic seperti Jenderal Sudirman,” ujar TB Silalahi selaku selaku eksekutif produser, saat jumpa pers syukuran film itu, di Kampoeng Bangka, Panglima Polim, Jakarta Selatan, Selasa (21/6).

Film “I Leave My Heart In Lebanon-Garuda 23” yang rencana produksi akhir Juli hingga Agustus 2016 di Lebanon dan juga Indonesia ini, Benni Setiawan kembali di percaya sebagai sutradara. Film besutan TB Silalahi Pivtires ini, menceritakan tentang pasukan Indonesia yang bertugas menjaga perdamaian di negara Lebanon, menurut Zairin Zain selaku Produser, memiliki tantangan tersendiri, khususnya syuting di Lebanon. Bagaimana tidak, semua kru dan pemain yang berangkat kesana harus pake visa khusus dari PBB.

Film ini sendiri berkisah tentang Kapten Satria (Rio Dewanto) seorang Perwira muda terpilih bersama prajurit terbaik lainnya, yakni Lettu Arga Yama Carlos dan Serka Gulamo-Boris Bokirmenjadi Kontingen Garuda yang akan ditugaskan di Lebanon. Dalam menjalankan tugas rutinnya, Kapten Satria mengalami berbagai kejadian yang cukup menegangkan antara lain harus melerai pertikaian antara Israel dengan tentara Lebanon. Termasuk, tatkala Kapten Satria dan regunya berhasil membebaskan rekan prajurit tentara Lebanon dari sandera pasukan Hizbullah.

Dalam misinya di Lebanon, Kontingen Garuda tidak saja mengamankan terjadinya konflik dua negara yang sedang berselisih, akan tetapi juga memberi bantuan sosial kepada warga setempat. Disana Kapten Satria bertemu dengan Rania (Jowy Khoury), seorang guru sekolah dasar, saat Kontingen Garuda tengah berkunjung ke sekolah sekolah guna memberikan pemerikasaan kesehatan dan informasi.

Sementara di Indonesia, Diah (Revalina S Temat) semakin gamang, karena muncul Andri (Baim Wong), yang masih sepupu jauh, seorang pemuda lulusan Inggris yang sukses dibidang property. Andri menaruh hati pada Diah yang didukung oleh ibunya Diah (Tri Yudiman) yang terus mempengaruhi Diah agar menerima cinta Andri. Sementara, Ayah Diah (Dedy Mizwar) justru sebaliknya, dia meminta Diah untuk setia menunggu Kapten Satria selesai bertugas.

Sebagai seorang prajurit Kapten Satria tetap menjaga kehormatan TNI dan tak mungkin menikahi seorang gadis Lebanon serta menetap disana, kecuali dia keluar sebagai prajurit TNI. Juga Rania tidak mungkin meninggalkan tanah Lebanon yang dicintainya, juga seorang ibu dan anak didiknya yang membutuhkannya. Saat Kapten Satria kembali ke Indonesia dan menemui Diah, tapi apa yang terjadi, Diah sedang melaksanakan pernikahan dengan Andri. Siapakah yang dipilih Kapten Satria? Nampaknya, kita harus bersabar menantikan hasil akhir produksi film ini.

Sumber : T.B. Silalahi Center

Related posts

Leave a Comment

error: Maaf, Beberapa Konten Kami Proteksi.. Silahkan Pilih Contact atau Chat Kami Sekarang
WhatsApp chat